kursor

Kristoff - Disney's Frozen

Senin, 15 Desember 2014

HUBUNGAN FILSAFAT DAN AGAMA



HUBUNGAN FILSAFAT, ILMU PENGETAHUAN DAN AGAMA


1. Definisi Agama

Kata agama yang dalam bahasa Inggris disebut religion diartikan dengan “bilief in and worship of God or Gods” atau juga diartikan dengan “particular system of faith and worship based on such belief”. Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan.
Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti “tradisi”. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.
Tafsir (2007: 9) mendefinisikan agama sebagai sistem kepercayaan dan praktek yang sesuai dengan kepercayaan tersebut dan peraturan tentang cara hidup lahir batin. Sedangkan Einstein (dalam Salam, 1988: 134) agama adalah kegiatan mengagumi dengan rendah hati roh yang tiada terbatas luhurnya, yang menyatakan dirinya dalam bagian yang kecil-kecil yang dapat disadari dengan akal. Agama juga diartikan dengan keyakinan yang sangat emosional akan adanya suatu daya pikir yang luhur yang dinyatakan dalam semesta alam yang tak dapat dipahami

2. Perbedaan ilmu pengetahuan, filsafat dan agama
  1. Dalam hal pembuktian : Ilmu pengetahuan dan filsafat memerlukan pembuktian/empiris untuk membangun keyakinan, sementara agama berawal dari yakin / keyakinan baru tersingkap hikmah/tabir rahasia dari kebenaran Haq yang bersumber dari wahyu Allah yaitu Al Quran dan teladan Rasul melalui Assunah.
2.      Dalam hal kapasitas: Ilmu pengetahuan dan filsafat membutuhkan kecerdasan dan kepandaian untuk dapat mencapainya dan membutuhkan pengakuan manusia lainnya (lebih pada kapasitas otak dan logika manusia). Sementara belajar agama tidak banyak memerlukan kepandaian, namun hanya cukup menegakkan kesadaran yang membangun keinsyafan diri.(lebih merupakan pada kapasitas akal dan hati).

3.      Dalam hal fokus/orientasi: Ilmu pengetahuan dan filsafat akan fokus pada objek dan kejadian dan membuat kaitannya antar objek dan kejadian menjadi suatu dalil melalui sistematika dan metodologinya yang rumit dan kadang sukar dipahami. Sementara ilmu agama tidak fokus itu saja tetapi lebih jauh fokus pada apa yang mendasari dibalik terciptanya atau bergeraknya objek/kejadian atau bagaimana hikmah di balik penciptaan atau terjadinya sesuatu. Dengan agama orang yang beriman tidak akan terjebak dengan dalil dalil apalagi berdebat panjang karena tuntunan Allah lewat Al Quran dan Sunnah sudah sangat terang dan segera meyakini bahwa Allahlah dibalik semua ciptaan dan kejadian yang dihamparkan itu baik di langit, bumi dan seisinya.
  1. Dalam hal sangsi : Belajar ilmu pengetahuan,.jikalau sudah didapat, tidak masalah kapan untuk diamalkannya dan tidak berpengaruh/ berakibat langsung terhadap diri. Belajar Filsafat, bila tidak dipakai, paling hanya menimbulkan kepincangan dan ketidakstabilan dalam hidupnya. Sedangkan agama bila tidak diamalkan, berlaku sangsi Tuhan

3.Kebenaran Agama


Ketiga teori kebenaran sebelumnya menggunakan akal, budi, fakta, realitas dan kegunaan sebagai landasannya. Dalam teori kebenaran agama digunakan wahyu yang bersumber dari Tuhan.
- Sebagai makluk pencari kebenaran, manusia dapat mencari dan menemukan kebenaran melalui agama.
- Dengan demikian, sesuatu dianggap benar bila sesuai dan koheren dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak.
- Agama dengan kitab suci dan hadits nya dapat memberikan jawaban atassegala persoalan manusia, termasuk kebenaran.
D. Kebenaran Filsafat
Ada empat teori kebenaran menurut filsafat, yaitu teori Korespondensi, Teori Koherensi, Teori Pragmatisme, dan Teori Kebenaran Illahiah atau agama. Ketiga teori pertama mempunyai perbedaan paradigma. Teori koherensi mendasarkan diri pada kebenaran rasio, teori korespondensi pada kebenaran faktual, dan teori pragmatisme fungsional pada fungsi dan kegunaan kebenaran itu sendiri. Tetapi ketiganya memiliki persamaan. Yaitu pertama, seluruh teori melibatkan logika, baik logika formal maupun material (deduktif  dan induktif), kedua melibatkan bahasa untuk menguji kebenaran itu, dan ketiga menggunakan pengalaman untuk mengPerbedaan Nabi dan Filosof

 

4.Nabi dan Filosof

Pada dasarnya setiap Nabi adalah seorang filosof, tapi seorang filosof belum tentu seorang Nabi. Seorang nabi apabila berijtihad (melakukan usaha penggunaan daya nalarnya semaksimal mungkin), seperti kasus Nabi Ibrahim 'alaihis-salam, nilai benar atau salah dari hasil akhir pencariannya akan senantiasa langsung diklarifikasi oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala lewat wahyu-Nya. Sehingga letak kedudukan benar atau salah dari hasil pencariannya itu mendapat kepastian langsung dari Alloh Yang Maha Tahu. Beda halnya dengan filosof yang meskipun bisa jadi dia sudah mengambil natijah (kesimpulan) bahwa penemuannya sudah benar, kedudukan kepastian benarnya belum sampai pada kemutlakan (absolut).etahui kebenaran itu. Louis O. Kattsoff menjelaskan bahwa filsafat adalah suatu analisa secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran mengenai suatu masalah, dan penyusunannya secara sengaja serta sistematis atas suatu sudut pandang yang menjadi dasar suatu tidakan. Kesulitan dalam mendefinisikan agama secara memadai tampak jelas dengan sangat banyaknya definisi mengenai agama. Banyaknya definisi mengenai agama mengakibatkan beraneka ragamnya agama yang ada di dunia saat ini.

Suatu agama mengungkap suatu kumpulan pola tingkah laku dan kepercayaan sebagai nilai-nilai yang tertinggi dan yang terbaik. Kepercayaan ada bermacam-macam, yakni ateisme (tidak mengakui adanya Tuhan), monoteisme (mengakui adanya hanya satu Tuhan), dan politeisme (percaya akan adanya Tuhan yang berjumlah banyak).

           5. Fungsi filsafat dalam agama
Menurut Louis O. Kattsoff, kita harus harus hati-hati dalam membedakan antara ‘filsafat keagamaan’ dengan ‘filsafat agama’. Filsafaat keagamaan memiliki makna filsafat yang disusun berdasarkan ajaran serta kepercayaan keagamaan sebagai pendirian yang hakiki. Namun, makna dari filsafat agama adalah suatu penyelidikan yang bersifat kritis tentang agama berdasarkan makna istilah-istilah, bahan bukti, dan prinsip-prinsip verifikasi. Selain itu, filsafat agama juga membahas mengenai hubungan antara agama dengan lapangan pengetahuan manusia yang lain.
Kegunaan filsafat di bidang agama sendiri adalah memahami makna agama, menambah pengetahuan tentang Tuhan, dan untuk menunjukkan bukti-bukti adanya Tuhan. Timbulnya tuntutan-tuntutan untuk mencari bukti adanya Tuhan disebabkan oleh pernyataan adanya Tuhan tidak jelas. Disinilah letak timbulnya masalah. Dari berbagai masalah yang ada, pembuktian-pembuktian pun diperlukan, yakni pembuktian dari segi ontologi, pembuktian dari segi psikologi, pembuktian dari segi kosmologi, pembuktian dari segi teleologi, dan pembuktian dari segi kesusilaan.
Pembuktian dari segi ontologi merupakan pembuktian yang berusaha menunjukkan Tuhan ada berdasarkan atas definisi tentang Tuhan. Lalu, pembuktian dari segi psikologi merupakan pembuktian yang menerangkan asal mula suatu pengertian atau gagasan tentang Tuhan sebagai suatu yang sempurna. Lalu, pembuktian dari segi kosmologi adalah pembuktian yang didasarkan pada pengamatan hubungan sebab akibat dan pendapat yang menganggap alam semesta merupakan suatu akibat yang dengan sendirinya memerlukan adanya sebab.  Kemudian, pembuktian dari segi teleolagi adalah pembuktian yang mempergunakan ibarat. Yang terakhir, pembuktian dari segi kesusilaan merupakan pembuktiaan yang tercermin dalam pengalaman manusia sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar