HUBUNGAN
FILSAFAT, ILMU PENGETAHUAN DAN AGAMA
1.
Definisi Agama
Kata agama yang
dalam bahasa Inggris disebut religion diartikan dengan “bilief in and worship
of God or Gods” atau juga diartikan dengan “particular system of faith and
worship based on such belief”. Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan
nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang
bertalian dengan kepercayaan.
Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti “tradisi”. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.
Tafsir (2007: 9) mendefinisikan agama sebagai sistem kepercayaan dan praktek yang sesuai dengan kepercayaan tersebut dan peraturan tentang cara hidup lahir batin. Sedangkan Einstein (dalam Salam, 1988: 134) agama adalah kegiatan mengagumi dengan rendah hati roh yang tiada terbatas luhurnya, yang menyatakan dirinya dalam bagian yang kecil-kecil yang dapat disadari dengan akal. Agama juga diartikan dengan keyakinan yang sangat emosional akan adanya suatu daya pikir yang luhur yang dinyatakan dalam semesta alam yang tak dapat dipahami
Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti “tradisi”. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.
Tafsir (2007: 9) mendefinisikan agama sebagai sistem kepercayaan dan praktek yang sesuai dengan kepercayaan tersebut dan peraturan tentang cara hidup lahir batin. Sedangkan Einstein (dalam Salam, 1988: 134) agama adalah kegiatan mengagumi dengan rendah hati roh yang tiada terbatas luhurnya, yang menyatakan dirinya dalam bagian yang kecil-kecil yang dapat disadari dengan akal. Agama juga diartikan dengan keyakinan yang sangat emosional akan adanya suatu daya pikir yang luhur yang dinyatakan dalam semesta alam yang tak dapat dipahami
2. Perbedaan ilmu pengetahuan, filsafat dan agama
- Dalam hal pembuktian : Ilmu pengetahuan dan filsafat memerlukan pembuktian/empiris untuk membangun keyakinan, sementara agama berawal dari yakin / keyakinan baru tersingkap hikmah/tabir rahasia dari kebenaran Haq yang bersumber dari wahyu Allah yaitu Al Quran dan teladan Rasul melalui Assunah.
2. Dalam hal kapasitas: Ilmu
pengetahuan dan filsafat membutuhkan kecerdasan dan kepandaian untuk dapat
mencapainya dan membutuhkan pengakuan manusia lainnya (lebih pada kapasitas
otak dan logika manusia). Sementara belajar agama tidak banyak memerlukan
kepandaian, namun hanya cukup menegakkan kesadaran yang membangun keinsyafan
diri.(lebih merupakan pada kapasitas akal dan hati).
3. Dalam hal fokus/orientasi:
Ilmu pengetahuan dan filsafat akan fokus pada objek dan kejadian dan membuat
kaitannya antar objek dan kejadian menjadi suatu dalil melalui sistematika dan
metodologinya yang rumit dan kadang sukar dipahami. Sementara ilmu agama tidak
fokus itu saja tetapi lebih jauh fokus pada apa yang mendasari dibalik
terciptanya atau bergeraknya objek/kejadian atau bagaimana hikmah di balik
penciptaan atau terjadinya sesuatu. Dengan agama orang yang beriman tidak akan
terjebak dengan dalil dalil apalagi berdebat panjang karena tuntunan Allah
lewat Al Quran dan Sunnah sudah sangat terang dan segera meyakini bahwa
Allahlah dibalik semua ciptaan dan kejadian yang dihamparkan itu baik di
langit, bumi dan seisinya.
- Dalam hal sangsi : Belajar ilmu pengetahuan,.jikalau sudah didapat, tidak masalah kapan untuk diamalkannya dan tidak berpengaruh/ berakibat langsung terhadap diri. Belajar Filsafat, bila tidak dipakai, paling hanya menimbulkan kepincangan dan ketidakstabilan dalam hidupnya. Sedangkan agama bila tidak diamalkan, berlaku sangsi Tuhan
3.Kebenaran Agama
Ketiga teori kebenaran sebelumnya menggunakan akal, budi, fakta, realitas dan
kegunaan sebagai landasannya. Dalam teori kebenaran agama digunakan wahyu yang
bersumber dari Tuhan.
- Sebagai makluk pencari kebenaran, manusia dapat mencari dan menemukan
kebenaran melalui agama.
- Dengan demikian, sesuatu dianggap benar bila sesuai dan koheren dengan ajaran
agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak.
- Agama dengan kitab suci dan hadits nya dapat memberikan jawaban atassegala
persoalan manusia, termasuk kebenaran.
D. Kebenaran Filsafat
Ada empat teori kebenaran menurut filsafat, yaitu teori Korespondensi, Teori
Koherensi, Teori Pragmatisme, dan Teori Kebenaran Illahiah atau agama. Ketiga
teori pertama mempunyai perbedaan paradigma. Teori koherensi mendasarkan diri
pada kebenaran rasio, teori korespondensi pada kebenaran faktual, dan teori
pragmatisme fungsional pada fungsi dan kegunaan kebenaran itu sendiri. Tetapi
ketiganya memiliki persamaan. Yaitu pertama, seluruh teori melibatkan logika,
baik logika formal maupun material (deduktif dan induktif), kedua melibatkan bahasa untuk
menguji kebenaran itu, dan ketiga menggunakan pengalaman untuk mengPerbedaan
Nabi dan Filosof
4.Nabi dan Filosof
Pada dasarnya setiap Nabi adalah seorang filosof, tapi seorang filosof belum tentu seorang Nabi. Seorang nabi apabila berijtihad (melakukan usaha penggunaan daya nalarnya semaksimal mungkin), seperti kasus Nabi Ibrahim 'alaihis-salam, nilai benar atau salah dari hasil akhir pencariannya akan senantiasa langsung diklarifikasi oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala lewat wahyu-Nya. Sehingga letak kedudukan benar atau salah dari hasil pencariannya itu mendapat kepastian langsung dari Alloh Yang Maha Tahu. Beda halnya dengan filosof yang meskipun bisa jadi dia sudah mengambil natijah (kesimpulan) bahwa penemuannya sudah benar, kedudukan kepastian benarnya belum sampai pada kemutlakan (absolut).etahui kebenaran itu. Louis O. Kattsoff menjelaskan bahwa filsafat adalah suatu analisa secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran mengenai suatu masalah, dan penyusunannya secara sengaja serta sistematis atas suatu sudut pandang yang menjadi dasar suatu tidakan. Kesulitan dalam mendefinisikan agama secara memadai tampak jelas dengan sangat banyaknya definisi mengenai agama. Banyaknya definisi mengenai agama mengakibatkan beraneka ragamnya agama yang ada di dunia saat ini.
Suatu agama mengungkap suatu
kumpulan pola tingkah laku dan kepercayaan sebagai nilai-nilai yang tertinggi
dan yang terbaik. Kepercayaan ada bermacam-macam, yakni ateisme (tidak mengakui
adanya Tuhan), monoteisme (mengakui adanya hanya satu Tuhan), dan politeisme (percaya
akan adanya Tuhan yang berjumlah banyak).
5. Fungsi filsafat
dalam agama
Menurut Louis O. Kattsoff, kita
harus harus hati-hati dalam membedakan antara ‘filsafat keagamaan’ dengan
‘filsafat agama’. Filsafaat keagamaan memiliki makna filsafat yang disusun
berdasarkan ajaran serta kepercayaan keagamaan sebagai pendirian yang hakiki.
Namun, makna dari filsafat agama adalah suatu penyelidikan yang bersifat kritis
tentang agama berdasarkan makna istilah-istilah, bahan bukti, dan prinsip-prinsip
verifikasi. Selain itu, filsafat agama juga membahas mengenai hubungan antara
agama dengan lapangan pengetahuan manusia yang lain.
Kegunaan filsafat di bidang
agama sendiri adalah memahami makna agama, menambah pengetahuan tentang Tuhan,
dan untuk menunjukkan bukti-bukti adanya Tuhan. Timbulnya tuntutan-tuntutan
untuk mencari bukti adanya Tuhan disebabkan oleh pernyataan adanya Tuhan tidak
jelas. Disinilah letak timbulnya masalah. Dari berbagai masalah yang ada,
pembuktian-pembuktian pun diperlukan, yakni pembuktian dari segi ontologi,
pembuktian dari segi psikologi, pembuktian dari segi kosmologi, pembuktian dari
segi teleologi, dan pembuktian dari segi kesusilaan.
Pembuktian dari segi ontologi
merupakan pembuktian yang berusaha menunjukkan Tuhan ada berdasarkan atas
definisi tentang Tuhan. Lalu, pembuktian dari segi psikologi merupakan
pembuktian yang menerangkan asal mula suatu pengertian atau gagasan tentang
Tuhan sebagai suatu yang sempurna. Lalu, pembuktian dari segi kosmologi adalah
pembuktian yang didasarkan pada pengamatan hubungan sebab akibat dan pendapat
yang menganggap alam semesta merupakan suatu akibat yang dengan sendirinya
memerlukan adanya sebab. Kemudian, pembuktian dari segi teleolagi adalah
pembuktian yang mempergunakan ibarat. Yang terakhir, pembuktian dari segi
kesusilaan merupakan pembuktiaan yang tercermin dalam pengalaman manusia
sehari-hari.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar